PSIKOPOP
HACKER DAN CRACKER “dari sisi psikologisnya”
Pada zaman serba teknologi ini semakin banyak penemuan barang-barang berteknologi tinggi, yang memungkinkan seorang individu melakukan segala hal tanpa batas. Disisi lain semakin banyak pula kebutuhan hidup yang diperlukan oleh masyarakat, sedangkan keadaan ekonomi yang semakin hari semakin memnuruk. Hal ini menyebabkan banyaknya kriminalitas yang terjadi disekitar masyarakat pada kehidupan sehari-hari, khususnya negara Indonesia. Tinggi kebutuhan hidup masyarakat membuat setiap individu semakin mengritis dalam berfikir untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Seorang hacker, atau yang biasa dikenal dengan hC, cbug, litherr, fwerd, d_ajax, r3dshadow, dll, dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu hacker dan cracker. Menurut Eric Raymond hacker didefinisikan sebagai ahli komputer yang pandai, sementara cracker dapat didefinisikan sebagai seseorang yang bisa masuk kedalam sistem orang lain, biasanya dijaringan komputer, mem-by-pass password atau lisensi program, atau secara sengaja merusak keamanan komputer. Nah sekarang kita akan bahas mengenai keduanya.
Hal itu pula yang membuat masyarakat semakin hari semakin bisa berfikir kritis untuk mencari rizki bagaimanapun caranya walaupun cara licik yang dijalaninya. Seperti kriminalitas komputerisasi yang sering kita sebut hacker. Kalangan hacker ini sangat sulit untuk dilacak, karena sindikat mereka tertutup rapi dibalik perangkat dan jaringan komputer. Menurut informasi, Indonesia adalah salah satu negara yang mempunyai hacker-hacker handal dan termasul peringkat 3 besar didunia. Seperti kasus Pemilu tahun 2004 yang sempat memusingkan pihak KPU dalam perhitungan suara. Biasanya kalangan ini melakukan kegiatan sehari-hari dengan komputer dan kegiatan coba-coba atau iseng-iseng biasa. Kebiasaan mereka adalah mencari celah kelemahan dari sebuah sistem, dan biasanya hanya mencari kepuasan pribadi untuk menunjukkan bahwa mereka bisa.
Kalangan hacker ini mempunyai keahlian untuk membobol sistem secara ilegal. Menurut informasi dari beberapa hacker, ada hacker yang bisa menjebol sistem perbankan, asalkan ada permintaan dari seseorang. Biasanya mereka memasang jumlah nominal tertentu, mereka melakukan pencurian kartu kredit dari database database yang dapat mereka peroleh dari kemampuan mereka. Mereka inilah dari kalangan kalangan yang biasa disebut carder. Dan biasanya negosiasi dengan mereka ataupun transaksi dengan mereka berlangsung secara sulit, dikarenakan untuk menjaga kerahasiaan idenitas asli mereka agar tidaqk terungkap oleh pihak yang berwajib. Sebenarnya, jika potensi dari orang-orang ini bisa dimaksimalkan oleh pemerintah indonesia, maka akan membantu dalam mengamankan jaringan internet di Republik Indonesia. Sebagian besar keluarga atau teman-teman dari para hacker ini tidak tahu kalau mereka melakukan tindakan tersebut, mereka tidak memberitahu kerabat mereka karena mereka beranggapan bahwa hacker bukan hal yang patut untuk diperbincangkan, bahkan ada kode etik yang mengatakan seorang hacker tidak boleh menganggap diri mereka sebagai seorang hacker.
Cracker biasanya melakukan tindakan-tindakan seperti yang sudah dikatakan diatas untuk menguji kemampuan dirinya, biasanya mereka menghitung waktu yang mereka perlu7kan untuk “menjebol” sistem keamanan, ada juga yang mengubah data karena merasa kurang senang dengan organisasi atau perusahaan tertentu, selain itu ada juga yang melakukan keuntungan pribadi dan untuk mendapatkan kepuasan pribadi, ada juga yang untuk sekedar bersenang-senang.
Ada dua macam dorongan yang membuat seorang cracker dan hacker melakukan tindakan-tindakannya yaitu, dorangan internal dan dorongan eksternal. Ada orang yang menjadi cracker atau hacker karena dorongan internal, misalnya, untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka yang mereka dapatkan ketika mereka berhasil menembus sistem keamanan komputer, ada juga yang hanya sekedar ingin menguji pengetahuan yang mereka dapatkan sebelumnya. Sementara untuk dorongan eksternal, biasanya disebabkan karena mereka tidak puas dengan sistem yang ada.
Sebagian dari mereka merasa puas dengan kegiatan mereka, mereka merasa bahwa yang mereka lakukan paling tidak dapat mewakili ketidak puasan mereka, selain itu mereka merasa memiliki “dunia” mereka sendiri. Bagi beberapa hacker, menembuas sistem keamanan komputer mungkin merupakan kompensasi dari ketidakpuasan yang ada dalam dirinya, namun tidak dapat ia keluarkan secara langsung, namun ada juga yang menjadi hacker dengan alasan hobby atau karena cita-cita mereka sendiri. (dhymaz_spyro)
Read More..